Postingan

Cahaya di Tengah Kegelapan

  Namaku Supardi Surya Kuncana, biasa dipanggil Pak Par oleh murid-muridku. Aku adalah guru di SD Bakti Mekar. Aku tinggal bersama istri dan kedua anakku. Anak laki-lakiku bernama Satya dan anak perempuanku bernama Sarti. Surya duduk di kelas 5 SD, sedangkan Sarti duduk di kelas 3 SD. Istriku, Sophia, adalah seorang ibu rumah tangga. Walaupun begitu, Sophia sering membantu perekonomian keluarga dengan cara menjual kue-kue hasil buatannya sendiri. “Hari ini Bapak membawa bekal kah?” tanya istriku. Aku menjawab, “Bawa saja, Bu.” Setelah siap menyiapkan semua keperluan kami, aku bergegas memanaskan motor dan pergi ke sekolah bersama Surya dan Sarti. Kebetulan anak-anak bersekolah di tempat aku mengajar. Dengan tergopoh-gopoh aku memarkir motor tua di tempat parkir guru seraya mengingatkan Satya dan Sarti agar belajar dengan baik. Mereka merupakan anak yang patuh, aku bangga menjadi Ayah mereka. “Selamat pagi, Pak Par,” sapa Bu Erni yang kebetulan lewat di depan kami. “Selamat pagi...

Dari Ruang Kelas ke Dunia Nyata: Bagaimana Guru Membentuk Generasi Berpikir Kritis dan Kreatif

  Pendidikan merupakan kebutuhan penting dalam proses kehidupan manusia. Pendidikan sejatinya dimulai ketika manusia berada dalam kandungan dan terus berlangsung sepanjang manusia hidup. Pendidikan yang pertama dan utama adalah keluarga. Di rumahlah anak-anak belajar bagaimana mengasihi, menghargai, melayani, dll. Sehingga orang tua adalah guru pertama dalam kehidupan anak-anak. Karena begitu pentingnya peran orang tua dalam keluarga, maka Sri Paus Yohanes Paulus II mengingatkan kita agar tidak melupakan unsur yang paling mendasar dalam kegiatan pendidikan. Unsur ini begitu mendasar sehingga menjadi ciri khas peranan orang tua sebagai pendidik. Unsur itu ialah cinta kasih. Ketika anak-anak sudah semakin besar, maka mereka akan siap mengenyam pendidikan di sekolah (Lembaga formal). Di sekolah, anak-anak banyak menerima ilmu pengetahuan, bukan hanya itu, mereka juga belajar berinteraksi dengan teman-teman dan masih banyak lagi yang mereka dapat pelajari di sekolah. Melalui uraian...

Guru: Mendidik Karakter Siswa Generasi Z

  Negara kita terkenal dengan karakter yang sopan, ramah, serta lemah lembut. Tegur sapa dan bersalaman merupakan pemandangan yang selalu kita temui di keluarga Indonesia. Belum lagi istilah-istilah seperti toleransi, tepo seliro, dan gotong royong yang sudah mendarah daging pada masyarakat kita. Saya ingat ketika saya duduk di Sekolah Dasar, kami akan cepat-cepat menjumpai guru kami hanya sekedar bersalaman dan itu harus mengantri karena semua siswa berebutan untuk bersalaman dengan Bapak atau Ibu guru. Jika ada salah satu teman kami tidak masuk karena sakit, kami pun selalu diajarkan untuk mendoakan dan menjenguknya. Sungguh karakter-karakter tersebut telah dibangun sedari kami kecil.  Menurut KBBI: Karakter adalah sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain, tabiat, watak. Pendidikan karakter sebagai tujuan dari pendidikan nasional tertuang dalam UU nomor 20 Tahun 2003 pada bab 1 pasal 1 ayat 1 tentang sistem pendidikan nasional y...